Thursday, December 27, 2018

Content

content 
adjective [ after verb ]
uk ​ /kənˈtent/ us ​ /kənˈtent/
pleased with your situation and not hoping for change or improvement

habis dengerin cerita yang glamorous lifestyle yang ngga pernah gue bayangkan sblmnya. *hbs nonton crazy rich asian, masih aja shock sama yg model bgnian.
terus gue pgn jalan buat merenung hahaha.
alhamdulillah doa gue masih sama. gue pgn bahagia dengan cara yg sederhana. gue pgn bahagia hanya dengan hal kecil, pgn tersentuh dan bersyukur untuk hal-hal yang nggak mahal.

what is more important than being contented with your life?

Monday, September 24, 2018

Dinas

Heyhoo,

Gue lagi keingetan satu topik lagi. Yaitu dinas.

Sebagai pegawai, gue baru aja dituduh suka dinas. I was like "whattt?!"
Gue udh lewat deh masa-masa seneng dinas. Gue dulu udh pernah ngerasain dinas dgn akumulasi waktu di luar kantor gue lebih dari empat bulan dalam setahun. Dari yg super excited dinas, sampe super males dinas dan "plisplis let me work on my desk this week".

Sekarang, gue udh bersyukur banget gue banyak waktu duduk di meja, pny banyak waktu untuk belajar, dan ngerjain sesuatu pelan-pelan.

Dinas itu banyak tanggungjawabnya lagi. Lo dibayar, dikasi uang dinas, pasti dengan ekspektasi kerjaan yang lebih banyak. Jadi kalau dibayarin dinas, jangan lupa tanggung jawabnya. Kalau ada kelebihan waktu, baru deh silakan dipakai untuk sekalian jalan-jalan refreshing.

But anyway, despite my love for traveling, I have no feeling towards dinas. lol.

Bbbyong!

Thursday, August 30, 2018

Self Appreciation

Hi Blog,

Lagi keingetan, jadi pengen nulis satu postingan sblm tidur.
Melanjutkan cerita gue di sini, gue jadi inget kalau gue suka nggak pedean.
Ada aja yg bikin gue nggak pede, pdhl sbnrnya bbrp kali gue merasa pantas untuk hal tsb.

Gue sampai mikir, apa karena gue cwe. Pdhl ortu di rumah selalu encourage gue dan bilang gue itu mampu. Lantas dari mana dan apa asal mula ini semua?

I still do not know the answer. Maybe I set my standard too high and I want to become everything and the best. While actually you only need to be good.

But anyway, sometimes this side of myself got me frustrated. Why I cant believe in myself, when there is no right or wrong and no one is perfect in this world.
I try to rewrite my mind up to this mind and collect my guts to voice my thought. I do believe that we should speak up, and do good things for our society.

Nahh sehubungan dengan topik ini, yg bikin gue keranjingan ama grup Kpop baru, yaitu BTS (yes! that one!), gegara campaign Love Yourself nya. Banyaaaak bgt lagunya yg bikin kita mikir, reflect in life. do I already love myself? Am I ready to love anyone else?
This song by Jin is like a relief song for me. I feel like why I cant love myself completely. Kenapa gue suka nggak pede dgn penampilan gue, kemampuan gue, atau kenapa gue terganggu dengan perkataan kecil org2. I do my best and thats all.

Tapi yaah, drpd overconfidence, i think its good to work on myself.

This is the video, hope you enjoy like how I enjoy this much.

And after this, I want to learn how to appreciate myself. I had did well and let's work hard again.

Bbyong!!

Thursday, May 3, 2018

Hikmah Hukuman Jaman SMA

Halooo,

Besok deadline paper. And here I am, blogging unnecessary things hahhaa.

Gue lg keinget sama hukuman jaman SMA dulu.

Dulu ada jenis hukuman yg paling gue benci, yaitu satu orang berbuat salah, semua (teman satu kelas atau satu asrama) salah.
Dulu gue benciiii banget hukuman ini. Gimana enggak, misalnya gue udh siap2 makan pagi sejak subuh dan udah rapi siap ke RKB jam 6 pagi. Taunya ada yg telat gara2 mandi atau ketiduran, jadinya kita semua telat (yahh maklum kalau berangkat ke ruang makan harus bareng2). Rasanya jadi percuma bangun pagi, siap2, kalau akhirnya cuma dapet waktu makan 5 menit. (habis itu, waktu makan kudapan jadi ditunggu-tunggu banget).

Gue selalu merasa kayak gni penting sih, tapi nggak daily basis jugaaa. Temen2 telat juga wajar aja sih sbnrnya, kdg karena antri kamar mandi, atau ketinggalan barang, atau apalah gtu. Makanya walau awal2 gue sering kesel, lama2 sih yaudahlahh. Dan gue pun cuma berharap gue nggak membuat temen2 gue nunggu gue. (and I think I am pretty success).

Tapi ternyata, hikmah hukuman ini baru gue pahami bertahun2 kemudian.

Ketika lo hidup bermasyarakat, ternyata apapun yg lo lakukan di jalan, di kantor, di rumah, dimanapun, berdampak ke orang lain. Makanya kalau udh sadar akan semua konsekuensi yg lo lakukan, harusnya lo bisa considerate thd orang lain dan meminimasi hal-hal yg bisa menyusahkan orang lain. Kalau istilah orang Jepang, be mindful of others.

Dan lo harus considerate thd orang lain, SETIAP HARI tanpa henti. Ketika lo sadar bahwa smua yg lo lakukan itu memberi dampak pd orang lain, lo akan bersungguh-sungguh akan smua hal yg lo lakukan. Gimana cara lo berbicara di tempat umum akan mengganggu orang atau nggak, gimana cara lo jalan akan menghalangi orang lain atau nggak, gimana klo lo males ngerjain kerjaan lo bakal nyusahin divisi lain atau nggak, dan sebagainya.

Yang gue maksud bukan manusia nggak boleh berbuat salah ya. Dengan consideration aja gue yakin bnyk hal yg lo lakukan akan diintepretasikan dengan pandangan yg berbeda sama orang lain. Tapi ketika lo udh berusaha, dan selalu berusaha memperbaiki diri, I think that matters the most.

Well, minusnya, ketika orang lain nggak menghargai effort lo, mungkin lo akan kesel setengah mati. Karena mikirin diri sendiri aja kadang udh susah, ini lagi disuruh mikirin orang lain. Terus orang lain seenaknya aja ignore effort lo.

Tapi percaya deh (gue pun sedang sambil meyakinkan diri sendiri). Ketika lo berniat baik thd orang, mencoba menghargai orang lain, pasti ada hal baik yg lagi menunggu kita.

Karena manusia diciptakan tidak hanya satu atau dua, tidak berjauh-jauhan, dan tidak satu pikiran.
Karena Gusti Allah Maha Tahu dan Dia tidak pernah tidur.

Monday, April 23, 2018

Exactly a Month Left

Well,

In a month, it will all over.

I will not forget the feeling of living my dream. The good rest from a monotonous life.

It will all over. Just like everything that has a begin, it has an end.

Sad but excited at the same time.

I always excited what life would take me to. Plus I will be with my friends and family again. Plus I will do what I want to do. Plus I can eat whatever I want to eat (lol).

Friday, April 20, 2018

Mandiri

Halooo.

Kenapa yahh nulis tugas ga maju2, tapi kepala rasanya penuh sama hal2 lainnya? Kali ini pengen nulis tentang mandiri.

Sejak SMA, gue selalu belajar buat nulis setiap ada uneg2 yang pengen dikeluarin, tapi bingung ke siapa tepatnya? Bukan gue nggak mau cerita ke temen sih. Antara kayaknya ga gtu penting, dan kayaknya nggak banyak yg mikirin hal serupa sama gue.

Well, kemarin gue nonton favorit gue ngomong kalau wajar orang perlu waktu buat dirinya sendiri. Selain mungkin faktor personality (gue introvert, dan katanya introvert perlu waktu sendiri untuk ngecharge dirinya), sendiri itu manusiawi banget. Kenapa? Karena naturally kita lahir sendirian, jadi wajar kalau kita kdg pengen pny waktu buat sendirian.

It does makes a lot of sense actually. Gue sering ngebayangin, kenapa orang begini begitu, act this way or that way. Dan ini gue sepakat bangeeeeet.

Gue selalu diajarin buat mandiri, nggak bergantung sama orang, even ortu, even future spouse. Cuma bergantung sama Tuhan. Karena semua orang milik Tuhan dan Tuhan bisa panggil siapapun kapanpun. Sayang boleh (atau HARUS), tapi ingat bahwa semua orang bukan pny kita.

Gue selalu ingin mandiri, supaya gue punya kendali akan diri gue, gue bisa ngelakuin semua yg gue mau, dan tentu saja bertanggung jawab sama semua keputusan gue. Gue nggak pengen orang lain memutuskan untuk hidup gue dimana pada akhirnya gue nggak akan pernah bisa minta orang lain bertanggung jawab untuk gue. Bukan gue nggak mau dengerin opini atau nasihat yaa. Gue cuma percaya bahwa gue lah yg bisa menyetir hidup gue dan gue harus bertanggung jawab akan hidup gue. Makanya sejak lulus kuliah, gue pengen pny penghasilan sendiri. Gue pengen produktif, bisa mewujudkan keinginan gue, dan tentunya menolong lebih banyak orang.

Tentu nggak mungkin gue bisa hidup seenak hidup gue. Gue lahir atas bantuan orang tua gue, dan gue pun akan hidup atas bantuan teman-teman dan keluarga gue lainnya. Gue tahu betul bahwa gue harus membantu orang-orang di sekitar gue, sebagaimana gue pun selalu dibantu orang-orang lainnya. Gue tahu gue punya peran, dan sebuah peran pasti punya hak dan kewajibannya masing-masing. Tapi sebelum gue menjalankan sebuah peran, gue mau gue nyaman dengan diri gue dan gue mature dalam memutuskan segala sesuatu dan bertanggung jawab akan apapun.

Gue juga bersyukur, bahwa lama-lama ngelakuin apa-apa sendiri itu jadi nggak aneh. Dulu perasaan mau makan atau nonton sendiri udh aneh bgt. Tp kayaknya lama2 gue pun sering liat orang sendirian dan itu nggak aneh. Apa karena di sni ya? Di Indo tp kayaknya gue sering ngeliat juga. Gue pun bukan nggak seneng ngobrol atau pergi sama orang-orang. I just feel like sometimes I need my time to think, organize my thought before decide something. Kalau lg ada sesuatu, coba deh sendiri. Gue biasanya akan cerita, minta opini, terus gue coba jalan kaki sendiri spy gue bisa mikir. Sambil dengerin musik gtu. It helps a lot for me.

Hahaha udah ahh. Gue awalnya kayak pny poin. Tapi hbs nulis, gue ngerasa lost hahaha. Mohon dimaafkan postingan nggak penting ini.

Thursday, April 12, 2018

Social Media

Haloo.
Lagi pengen nulis di sela-sela mencari inspirasi term paper (emg gue banyak alasan aja sih).

Hmm kali ini pengen bahas soal social media.

Gue lg sering baca ajakan orang-orang buat lepas dari social media. Gue sejujurnya pengen juga sihh. I mean we can still communicate through texts, blogs, or other platforms which are "less social". So we dont feel like we need to post something everyday.

Lalu gue jd mikir juga kenapa yaa gue masi main social media. Dan gue rasanya pny akun dimana2 hahaha. Alay? Well, gue ga bangga tapi ga malu juga sihh biasa aja.

Awalnya gue selalu pny social media supaya gue bisa liat kabar temen2 gue. I have been away from friends since high school, plus I have no sibling. I think it's normal for me if I sometimes miss my friends. Plus Indonesia is huge, it is very hard to keep in touch in real life. Makanya jaman fesbuk booming, gue ikutan. Terus twitter. Hbs itu apa yahh, instagram dulu apa path dulu? Trs yaudah gue jd punya smua akun. (untungnya ga kena snapchat sihh. gue agak nggak bgt juga kayaknya manyun2 di kamera hahaha). Pas jaman path dan instagram, gue baru ngerasa kebanyakan akun sih hahhaa. Buat apa juga pny bnyk platform ketika hidup gue cuman satu. And I am just normal people, I dont think I have so many things to share. Tapi lagi-lagi niat ngurangin akun hanyalah niat karena ada temen gue cuma di path, cuma di ig, cuma di fesbuk. Hahaha. Sungguh being 30 does not mean I am mature though,

Mostly orang-orang ngajak untuk lepas dari social media karena socmed bikin bnyak negative impact ke orang. Misalnya, orang jadi fake/less honest, kecanduan popularitas, kecanduan henpon alias dikit2 ngecek hp buat ngecek notif, kurang menghargai present/real life, dan jd less productive. Well, I could not agree more sih. Gue pernah mengalami masa ini, and I am definitely (still) learning from my mistake. Gue pun banyak jd saksi dimana temen2 gue malah asik foto2 instead of kita ngobrol sesuatu, atau temen gue jd negatif bgt karena dirinya ngerasa kalah dibanding temen2 lainnya.

Well, gue ga nyalahin siapa2 sihh. It is a good thing to have stored memories in your phone and share to people. Gue pun selalu hepi kalau lg ngeliatin foto2 gue jalan sebelumnya. Jadi kalau ada temen2 yg butuh escape plan, tempat recommended/nggak recommended bisa jadi referensi. Cuma makanya gue pun skrg lg berusaha nggak pegang handphone whenever I am with friends especially during meal time. Berhubung kemampuan komunikasi gue minus, jangan ampe dehh minusnya tambah gede.

Bagian yg jadi depressed karena ngeliat temen2, hmmm. Alhamdulillah gue hampir nggak pernah ngalamin. Gue pernah sih kayak, waaa bagus bgt gambarnya pengen deh kesana. Tapi terus mikir, am I really want to do that or just because everyone does that, I change my mind too? Nah, sejak saat itu, gue selalu cari tahu dulu sebelum pengen. Karena namanya foto, cuma berapa persen sih dari exact conditionnya. Worth nggak sama effort buat kesana. Kuat nggak kalau emg mau kesana. Dan kalau emg mahal bgt atau lagi ada prioritas lain yg ga bisa dihindarkan, gue cuma berharap mudah2an ada rejeki kesana. Namanya juga rejeki, cuma Tuhan yg tahu. Kadang gtu aja gue udh tenang. Hahhaa *apa deh gue. But still, it's very a human thing, to became envious of others. So do not feel bad if you do that. Lagian iri sama orang bisa jadi penyemangat, sumber kreativitas, dan bikin jadi pribadi yg lebih baik (if you can escape the bad thought, of course).

Udh dulu yaa. Mudah2an gue bisa lebih wise dlm pke social media dehh. Tujuan gue cuma buat update kehidupan temen2 (dan idola favorit :D), supaya gue bisa ikut seneng ketika mereka seneng, dan bisa bantuin ketika mereka sedih. Dan mudah2an gue pun bisa sharing hal yg baik2 aja.

Bbyong!