Friday, June 12, 2009

MDP First Day

Senin, 8 Juni 2009
Pagi ini dikejutkan dengan olahraga pagi yang diadakan jam 6. Kami semua senam dan lari keliling pekarangan plant. Lumayan juga, mengingat satu tahun penuh aku absen dari sabuga. Ngos-ngosan tapi sehat juga. Aku juga kaget karena aku juga diajari lagu lari seperti dulu,

Ayo lari Tiap pagi
Badan sehat Kuat kaki


Tentu saja dengan lirik yang diganti-ganti sesuai dengan keinginan pelatih.
Selanjutnya kami semua dipanggang di pekarangan plant untuk opening ceremony pada jam 10-11. Lalu kami makan siang di ruangan meeting dan dilanjutkan dengan acara lainnya, yaitu plant tour dan materi dari pihak manajemen.
Pada hari itu, kami berkenalan dengan menyebutkan nama, asal jurusan masing-masing dan tahun kelulusan pada awal kegiatan. Yah, lumayan juga jadi tahu beberapa nama peserta lainnya. Agak aneh juga sih berada di tengah-tengah mbak-mbak dan mas-mas yang akan bekerja dan semuanya sudah lulus. Untung saja, mayoritas diantara mereka fresh graduate, sehingga perbedaan umur kami hanya satu sampai dua tahun.
Hari itu ditutup dengan makan malam bersama di kantin, dan kemudian persiapan untuk hari berikutnya.

MDP First Day

Minggu, 7 Juni 2009

Hari ini aku akan memulai training pra kerja praktek yang akan kulakukan di PT Polychem Indonesia Tbk. Awalnya aku dan temanku hanya apply untuk KP. Namun karena berbarengan dengan training untuk calon karyawan, maka aku dan Riris mengikuti training yang bernama MDP (Management Development Programme) tersebut.
Dimulai dengan perjalanan menuju Karawang, tempat dilaksanakan training tersebut. Aku diantar oleh orangtuaku dan supir. Sampai sana, aku langsung diarahkan untuk menuju mess tempat aku akan menginap. Sampai sana, ternyata rombongan yang seluruhnya berasal dari Malang sudah sampai. Tidak lama kemudian, Riris pun sampai dan kami pun berkenalan satu sama lain sampai berkumpul di kantin untuk melakukan gladi resik upacara pembukaan.

Ada 5 orang perempuan selain kami dan 18 orang laki-laki. Untuk perempuan, ada Mbak Fitri, Mbak Eli, Mbak Dian, Mbak Hilda dan Mbak Aida. Seluruh peserta yang jumlahnya 25 ada yang berasal dari teknik kimia, teknik sipil, teknik mesin, teknik elektro, psikologi, hukum dan akuntansi. Kebanyakan peserta berasal dari ITN Malang, dan sisanya ada yang berasal dari Politeknik Malang, ITS dan UMM. Seluruhnya akan mengikuti seleksi yang diadakan di rangkaian MDP yang dilaksanakan empat hari mulai tanggal 8-11 Juni 2009.

Di hari ini, kemudian kami berkumpul untuk membuat ikrar yang akan kami patuhi selama 4 hari ke depan dan membuat yel-yel MDP angkatan 2009. Selanjutnya kami melakukan PBB untuk gladi kotor closing ceremony esok hari dan briefing rangkaian acara. Yang aku kagetkan, aku diajari menyanyi lagu-lagu yang pernah kunyanyikan di SMA TN dulu. Kangen deh.
Selamat datang pahlawan muda
Lama nian kami rindu padamu
Bertahun-tahun berderai mata
Kini kita dapat berjumpa pula

Selanjutnya kami kembali ke mess untuk istirahat dan mandi dan makan malam yang dilakukan di kantin. Malam hari, aku habiskan dengan berkenalan satu sama lain terutama yang perempuan di mess.

Sunday, January 4, 2009

wisata kuliner

Aku, merupakan salah satu bagian dari keramaian tiap tahun saat Lebaran. Ya, mudik merupakan rutinitas andalanku setiap tahunnya. Seru dan melelahkan, itulah kesanku. Namun, banyak hal yang dapat dilakukan saat mudik. Yak, apalagi kalau bukan wisata kuliner. Berikut adalah salah satu rumah makan yang dapat dikunjungi di berbagai kota dengan rasa jempolan:

1. Pesona Laut Jalan Raya Indramayu: Di tempat ini, sudah pasti menyajikan makanan seafood khas pinggir pantai yang segar. Letaknya di Jalan Raya Indamayu, sebelum pertigaan Indramayu-Cirebon dari arah Jakarta. Wah, maknyus deh pokoknya. Tapi siap-siap bersabar saja karena ramai pengunjung. Namun tampaknya ia sudah berjaga-jaga akan hal ini, sehingga waktu menunggu nya tidak terlalu lama kok.

2. Kuning Ayu Indramayu: Kalau tempat makan ini letaknya di Indramayu. Menu andalannya adalah ayam goreng, sayur asem, dan soto. Pelayanannya cepat, dan tidak pernah sepi. Untuk para pemudik, cocok juga karena tempat ini dilengkapi mesjid yang bagus, dan bersih.

3. H. Moi Jalan Raya Tegal: Letaknya menuju kota Tegal, dekat Jembatan. Menu andalannya sate kambing dan gulainya. Yummy dan sedap. Lagi-lagi siap-siap saja akan ramainya. Sambil menunggu, sedap juga mencium asap satenya dahulu (apa sih Septine.. Hahhaha).

4. H. Mul Cirebon: Kalau rumah makan ini, banyak sekali terdapat cabangnya di Cirebon. Menu andalannya seafood segar ala pantai. Maknyus sekali kepiting saus padangnya. Kalau jam makan siang, hati-hati ramai saja. Namun, ia buka hingga malam, sehingga kalau datang di sore hari, cukup sepi kok.

5. Mbok Sador Simpang Lima: Menu andalan mbok yang satu ini adalah pecelnya. Biasanya buka saat malam bahkan ketika sahur pun masih ada. Seru sekali makan di malam atau sahur ketika puasa, bersama dengan pedagang-pedagang makanan yang lain.

6. Ninit Magelang: Letaknya di kota Magelang dekat pasar yang dekat Hero (lupa namanya). Di sana menu andalannya adalah ayam goreng yang dimasak hingga tulangnya lunak sekali. Bagi seluruh alumni TN, rasanya pasti sudah mengenal rumah makan yang satu ini.

7. Solo Ria Sragen: Letaknya tepat di kota Sragen, di jalan rayanya. Menu andalannya adalah ayam goreng dan ikan bakarnya. Rumah makan ini juga menyediakan bentuk lesehan bagi para keluarga. Buka sesiangan hingga sore. Sambelnya, Yummy,,

8. Nyoto Roso Alas Roban: Hutan yang letaknya setelah Batang Pekalongan, sebelum Kendal. Diantaranya ada rumah makan ini yang menu andalannya adalah Ayam Goreng dan sayur asemnya yang bening sekali. Rasa belimbing wuluh yang segar enak sekali dikonsumsi ketika lapar. Nyamnyam.. Biasa buka di siang dan malam hari.

9. Cindelaras Muntilan: Rumah makan ini juga menyajikan berbagai menu. Sebenernya nggak taw juga yang paling enak apa. Tapi pernah nyobain ayam gorengnya enak juga, kalau temen suka banget sama opornya. Kalau siang rame banget.

10. SGPC Yogyakarta: Sego pecel ini letaknya di sekitar selokan mataram. Rasanya tidak terlalu pedas bagi para pembenci pedas. Lauknya pun ada macam-macam, mulai telur ceplok, tempe, sate telur puyuh, bakwan, gorengan, dsb. Suasananya klasik dan sering diramaikan oleh satu pengamen yang membuat suasana makin ramai.

11. Gudeg H. Amad Yogyakarta: Yah, menu andalannya apalagi kalau bukan gudeg. Kreceknya, maknyus.. Letaknya di sekitar selokan Mataram. Hati-hati kalau siang rame banget.

12. Baso Wong Duro Kepanjen Malang: Baso yang satu ini rasanya maknyus dan baso banget. Letaknya hanya ada di Jalan Raya Kepanjen-Malang dekat pom bensin. Selalu dipenuhi oleh pengunjung. Namun tenang, baru duduk, pasti baksonya sudah datang. Nyamnyam..

13. Sup Ikan Sanur Bali: Lupa namanya.. Cuma sudah terkenal sekali kok. Letaknya di dekat pantai Sanur. Jadi, sebelum berkunjung ke pantai Sanur, boleh juga sarapan di sana, mumpung belum begitu ramai. Enak dan segar sekali kuahnya dan juga ikannya.
Hahaha.. sambil menuliskan ini, aku sambil membayangkannya satu persatu. Sedap dan jadi lapar. Sekian dulu deh. Semoga bermanfaat bagi para traveler. Tips terakhir, kalau bingung cari tempat makan, datangi saja yang ramai, insya Allah rasanya tidak akan terlalu buruk.

Sekian sharingnya, mudah-mudahan berguna :)

Reunian SD

Kemarin aku bertemu dengan teman-temanku. Bukan hanya teman biasa, namun teman SD ku, teman yang mayoritas terakhir kali kulihat 8 tahun yang lalu, ketika masih SD.
SD ku adalah SD Negeri Polisi 5, yang letaknya di pusat kota, dekat kantor polisi memang (mungkin itu alasan nama SD ku yang bernama polisi), bersebelahan dengan SD Negeri Polisi 4 dan berdekatan dengan SD Negeri Polisi 2 dan 3. Dulu, gedung sekolah kami hanya terdiri dari 2 lantai, dengan dua kamar mandi di dalamnya, ruang kelas yang mungkin hanya ada 6 (yang membuat kami harus masuk bergiliran, pagi dan siang), ruang guru, ruang kepala sekolah, koperasi, dan satu perpustakaan yang letaknya agak terpisah dari gedung utama kami. Lapangan yang kami miliki pun, seperti kata Rizky, hanya memiliki lebar beberapa meter dan panjang yang bermeter-meter, yang kalau kata Papa Saya, sampai-sampai sulit rasanya untuk menghormat ketika upacara lantaran sangat sempit sekali dibandingkan dengan jumlah siswanya yang banyak.

Kelas kami hanya ada dua satu angkatannya, yaitu kelas A dan B yang proporsi personilnya tidak berganti-ganti setiap tahun alias, tetap selama 6 tahun. Makanya, jangan heran kalau kami sangat dekat satu sama lain. Jumlahnya pun banyak dibandingkan dengan kelasnya yang kecil yaitu 45an orang, sampai kami harus duduk bertiga satu bangkunya dengan kipas angin yang ada di setiap kelas, yang selalu kuhindari karena takut jatuh.. Hahaha..

Setelah beberapa tahun, aku mulai menemukan kembali teman-teman yang sangat lama tidak kulihat, maklum saja, aku sempat SMA di luar kota, yang semakin membuatku kehilangan kesempatan bertemu dengan mereka. Melalui facebook, aku mulai berhubungan kembali dengan teman-teman semua, dan mulai menginisiasi untuk berkumpul saat liburan tiba, dan itu adalah hari kemarin.

Dengan meeting point di foodcourt ekalos pukul 11.00, aku mulai menunggu teman-teman yang belum datang. Satu persatu kuhubungi, dan mulailah Rizky, Arifin, Dimas, dan Angga pun datang, Lalu datang Manik, Keke, dan rombongan Reza, Didit dan Pacar Didit alias Anggi. Lalu mulai pula datang rombongan Kaista, Mega, Anggun, dan Ayu diselingi kedatangan Annisa, Angga, Indra, Putri. Terakhir, datanglah Kemal dan Febby yang terlambat.

Waktu dari jam 11 sampai jam 3 pun rasanya berlalu dengan cepat. Sembari membahas berbagai kejadian konyol kami saat SD. Lalu, Febby pun mengusulkan untuk berkunjung ke rumah Bapak Untung, wali kelas kami kelas 6 yang kebetulan rumahnya tidak jauh dari tempat kami berkumpul. Dengan kendaraan yang dibawa, beberapa dari kami yang belum pulang pun langsung meluncur ke sana.

Di rumah Pak Untung, kami disuguhi teh botol dan kemudian mengenang masa lalu yaitu ketika menjelang ebtanas, kami membuat catatan yang berbentuk gulungan kertas yang sangat panjang dan juga cerdas cermat di kelas setiap harinya. Kami kemudian sempat cerdas cermat, yang bahkan herannya mampu dijawab oleh teman-teman lainnya. *heran banget. Pak Untung: “Siapa yang menggali terusan Panama?”. Semua kebingungan sampai Rizky menjawab “Ferdinand de Lesseps”

Ampunnn.. Diteruskan dengan tebak-tebakan ibukota Pakistan, Suriname, dan lainnya yang mampu dijawab Febby dengan cepat. Haduh, baru sadar, long term memory ku tidak bagus yah? Miris.. Hahaha.

Lalu ditutup dengan foto bersama dan lanjut ke acara selanjutnya, makan-makan di McD sambil menunggu hujan reda. Di sana lebih gila lagilah ngobrolnya, mulai dari ngomongi trio Danio, Ramdan dan Indra yang dulu kerjaannya mukul-mukul meja dan segudang kegilaan saat SD. Selain itu juga sempet ngobrol-ngobrol mengenai kelanjutan studi kami yang berbeda-beda. Mulai dari Kaista yang di Fikom Unpad (Dia juga sering ngajar buat jadi penyiar gitu, bolak balik Bandung-Nangor.. Wow.. Hebat banget), Kemal di Perkapalan UI, Putri di Sekretaris Tarakanita, Didit di Manajemen IPB, dan lainnya.. Seru sekali.

Rasanya berat ketika harus berpisah pulang. Tapi tenang saja, masih ada reunian babak kedua. Semoga acara nanti bisa berlangsung lebih sukses. Amin.

Sunday, December 21, 2008

Apa yang harus selalu kau bawa?

Barang apa yang selalu ada di tas mu?
Kalau pertanyaan itu ditujukan padaku, ada tiga benda yang selalu wajib kubawa, yaitu:
1. Handphone: Rasanya agak berlebihan juga ya kalau handphone itu termasuk barang primer, hanya saja, aku hampir tidak bisa terlepas dari handphone. Tugas-tugas kelompok di Teknik Industri, selalu membuatku harus bisa berhubungan dengan seluruh teman-temanku, di samping pacar ya. Hehehe. Handphone sonyericsson K770i warna coklat punyaku, sudah dipenuhi oleh 699 nomor, dari 1000 tempat yang tersedia, dan disertai kamera 3.2 MP yang bisa digunakan di berbagai kondisi. Mau urusan apapun, tinggal klik. Ikastara bandung, oke, tugas PTI atau OR, oke, atau bahkan mama dan papa. Selain itu, telkomsel flash ku yang aktif, praktis digunakan di mana saja. Tinggal colok ke laptop, nyala deh. Bener-bener handphone multifungsi, yaitu GPRS, SMS, telepon, bahkan reminder. Kalau handphone esiaku, masih berada di posisi dua, dengan merek Samsung. Ada kamera VGA juga, dan mampu menampung 1000 nomor dengan yang sudah terisi 300 nomor. Benar-benar murah dengan nomor esia di dalamnya. Kayaknya, kalau mau cari sponsor, anak TI ITB harus ke esia, karena lebih dari 50% mahasiswanya menggunakan esia.
2. Dompet: Ya iyalah. Gimana mau makan, kalau uang aja nggak ada. Wajarkan kalau dompet merupakan barang wajib bawa. Dompet selalu berisikan uang cash sekitar 100 ribu aja udah cukup, dan jangan lupa ATM buat kalau mau hedon. (hahaha.. Padahal ga pernah ada isinya :P). Selain ATM dan uang cash, sertakan juga uang receh buat pengamen, KTP yang masih aktif dan juga SIM.
3. Payung: Entah mengapa, karena bogor sering hujan, aku selalu terbiasa membawa payung ke mana pun. Rasanya bete aja, kalau misalnya hujan turun, aku harus menunggu sampai reda, mendingan terobos saja, tentu saja dengan payung. Yah, kalau memang kira-kira akan pulang agak malam, jangan lupa ditambah jaket. Bandung yang terkenal dengan dinginnya, memang tidak main-main dengan udara dinginnya dan sering hujan juga ternyata. So, sedia payung sebelum hujan.
Bagaimana dengan kamu? Apa yang selalu ada dalam tasmu??

Saturday, December 13, 2008

TN ku..

Lahir menjadi anak satu-satunya membuatku sangat manja. Sampai SMP, aku bahkan hampir tidak pernah membantu ibuku mencuci di rumah, membantu memasak, semuanya dikerjakan oleh Pembantuku.
Sampai suatu hari, takdir mengubahku.
Aku masuk ke SMA swasta yang amat sangat terkenal akan kedisiplinannya. Sekolah itu terletak di kota Magelang. Sistem semi militer berasrama kualami selama tiga tahun.
Bukan hanya hal baik saja yang kuterima, selain kedisiplinan yang keras tentunya. Setelah aku lulus pun, aku sendiri sampai heran, bagaimana bisa aku begitu kuper dan buta dunia luar. Aku ingat, dulu ketika liburan tiba, banyak sekali band-band baru yang tidak kuketahui, sampai-sampai ayahku menertawakanku.
Ya, kami hanya diberi kesempatan satu kali setiap minggunya untuk keluar kampus. Itupun hanya sekitar kota Magelang. Jika sudah kelas 2, boleh juga ke Jogja. Namun kadang-kadang sayang biayanya aja. Lagipula jaraknya yang cukup jauh, membuat aku kelelahan ketika balik lagi sesampainya di kampus. Salah satu kelemahan lulusan SMA ini ialah kuper. Walaupun Koran selalu tersedia di area kelas tiap tingkatan, namun rasanya masih kurang. Internet pun belum bisa diakses dengan bebas, bagaimana mau akses, paling-paling harus ke fasnet (warnet-red) yang lamanya setengah mati dan jam bukanya pun terbatas sekali. Mau telepon rumah? Yah, sisihkan saja uang untuk menelepon di wartel, karena handphone hukumnya haram.
Aku juga ingat, di radio pernah ada ucapan salah satu ortu dari siswa TN, yang menyesal memasukkan anaknya di sana, karena ia jadi sangat tidak gaul dan tidak tahu apa-apa.
Walaupun begitu, tetap saja kita tidak bisa menstereotype-kan bahwa semua anak TN kuper. Mungkin saja, akunya dulu yang begitu menutup diri atau si anak yang katanya kuper itu memang tidak mau tahu hal di luar.
Nyatanya, alumni TN terkenal dengan jaringan dan kesolid-annya, walaupun sudah lulus. Jangan heran jika Anda pernah melihat sekumpulan anak TN dari yang mukanya udah tua banget, sampai yang masih mahasiswa, karena sering sekali aku bertemu dengan abang angkatan 1 dan aku angkatan 14. Lihat betapa jauhnya bukan? Namun, belum pernah bertemu bukan halangan. Cukup memakai jaket almamater di jalan, pasti aku sudah disapa banyak orang yang bahkan baru pertama kali kulihat.
Dulu, aku amat membenci berbagai tradisi yang menurutku sudah kuno dan nggak banget. Dulu aku paling takut ketika acara makan. Bukan karena aku dipukuli atau bahkan ditampar. Sama sekali bukan. Tapi aku harus menghapal seluruh kakak perempuan, yang nantinya akan menjadi teman makanku. Wah, memang sih hanya dua angkatan, dan siswi perempuan jauh lebih sedikit daripada siswa laki-laki. Tapi rasanya, mengahapal 52 kakak kelas 3 dan 72 kakak kelas 2 sudah merupakan siksaan bagiku. Apalagi temanku saja jumlahnya sudah 97. Ampun. Kalau tidak bisa jawab? Yah, pastinya sih Cuma malu.
Lalu belum lagi segudang tata tertib yang diajarkan oleh kakak-kakak PKS. Baju harus memiliki empat garis, 2 di depan dan sisanya di belakang. Sepatu harus kinclong sempurna, gesper harus mengkilap sempurna. Tak lupa mengisi kantong baju dengan notes dan buku saku. Membawa saputangan, pulpen dan memakai nametag dimana pun berada. Jika lupa? Paling-paling disuruh lari keliling atau lari ke graha mengambil barang yang tertinggal.
Makan tidak boleh terlambat. Di meja makan, terdapat 2 orang kakak kelas 3, 2 orang kakak kelas 2 dan aku bersama temanku. Aku harus sigap memindahkan centong nasi, sendok sayur, tempat nasi, dan tempat sayur. Makanpun tangan tidak boleh menyentuh meja, makan nasi harus berurutan dari bagian yang paling atas.
Dulu aku paling suka dengan kegiatan belajar. Selain bisa bertemu rekan-rekan pria, paling tidak aku tidak harus dipelototi oleh kakak-kakak. Di kelas pun, terkadang kakak/abang yang memiliki nomor absen yang sama dulunya, terkadang datang, membawakan makanan ringan atau sekedar menghibur adik-adiknya. Dulu aku ingat, bahkan pacar kakak absenku pun sering datang mengunjungiku. Alasannya klasik, menanyakan tentang kakakku.
Pulang sekolah, aku makan siang dan kalau beruntung ada sidak, yah, siap-siap saja lari keliling graha, atau pushup sesuai dengan pelanggaran. Padahal rasanya tangan dan kaki ini sudah lelah akibat lari di pagi hari atau berenang. Setelah itu, bisalah istirahat sebentar, itupun kalau tidak ada cucian. Kalau harus mencuci, ya mencuci. Jangan pernah lupa mengangkat jemuran yang sudah kering, dan menyetrikanya sebelum dimasukkan ke dalam lemari.
Setelah itu, biasanya ada kegiatan seperti pelajaran bela Negara dan Kenusantaraan&Kepemimpinan. Sebenarnya aku suka kedua pelajaran itu, karena sifatnya ringan dan menambah wawasan yang sama sekali belum pernah kudapatkan. Tapi, baju bela Negara sangat sulit untuk dicuci karena besar. Belum lagi sepatu PDL yang bentuknya kayak sepatu hansip itu. Kalau tidak mengkilap, siap-siap saja lari (lagi).
Malam, setelah makan, aku pun harus berada di meja belajar sejak jam 7 malam sampai jam 9. Biasanya sih yang efektif hanya menjelang ujian atau ulangan harian. Tapi lumayan, kadang-kadang kami mengisinya dengan mengerjakan PR bersama atau membahas pelajaran di kelas yang tadi terlewat akibat ketiduran. Hehehhe. Tapi tak jarang juga kulewati jam belajar malam dengan tidur atau hanya mengobrol dengan teman sebelahku.
Wah, dari tadi kok ngeluh melulu ya? Hehehe.
Setelah aku kos sewaktu kuliah, ternyata kesemuanya ini memberikan manfaat yang amat sangat berarti.
Lihat saja:
1. Menghapal nama kakak kelas, membuatku kini mudah sekali menghapalkan nama orang. Walaupun masih sering lupa juga, tapi lumayan membuatku memaksa menghapal wajah orang yang pernah kukenal.
2. Baju harus bergaris, itu sebenarnya representasi dari lipatan baju di lemari. Andai tidak digaris pun sebenarnya sudah akan terdapat garis. Namun jika digaris dari awal, akan memudahkan kita saat menata atau melipat baju dalam lemari
3. Sepatu dan gesper kinclong. Merupakan bentuk bahwa setiap hari kita harus mempersiapkan segala sesuatu untuk mendapatkan kesan yang baik dari teman-teman di sekitar kita. Malu juga kan kalau melihat sepatu yang kotor dipakai kemana-mana.
4. Membawa sapu tangan, pulpen, notes. Penting banget! Terutama buat mahasiswa baru yang belum hapal jadwal kuliahnya. Harus rajin-rajin mencatat jadwal ruangannya, bahkan petanya kalau bisa. Dan kalau habis lari-lari karena telat, lap keringet deh pakai sapu tangan. Praktis!
5. Peraturan meja makan sih representasi dari table manner. Yah, bagaimanapun juga, kita sebagai kaum wanita masa kalau makan seperti supir bis, asal-asalan. Anggun dikitlah.
6. Jam belajar malam. Sangat berguna bagi para mahasiswa. Tentu saja jadwal kuliah yang berantakan harus memaksa kita mampu membagi waktu dengan baik. Salah-salah malah kebanyakan main karena sudah dikekang tiga tahun. Belajar dua jam sehari sudah cukup sekali dan bisalah kita membuang jauh-jauh status deadliners kita. Kuliah masih deadliners? Wah, hati-hati saja.
7. Selebihnya, seperti mencuci, menjemur dan menyetrika, merupakan investasi bagi kita kaum hawa. Lulus-lulus, udah siap nikah. Tinggal belajar masak aja. Hehehehe. Buat kaum adam, yah pasti bisa lebih toleran sama istrinya nanti, karena tahu bahwa pekerjaan-pekerjaan itu nggak mudah.
8. Olahraga dan Berenang. Well, hal ini menyebabkan lengan besar dan betis besar bukan percuma loh. Ospek saat kuliah atau bahkan hanya ketika melakukan aktivitas sehari-hari, badan kita pasti lebih fit dibanding teman-teman lainnya. Dijamin.

See, semua ada hikmahnya.

Wednesday, October 8, 2008

Rumah itu Setahun Sekali

Aku dan keluargaku selalu mempunyai rutinitas setiap kali Lebaran. Ya, tak lain tak bukan adalah mudik. Walaupun hampir setiap tahun kami terjebak macet, namun kami tak pernah kapok.

Aku selalu mudik ke Malang, tempat kakekku berada. Walaupun ia telah tiada, namun karena keluarga ibuku sangat besar sekali, kami semua selalu menyempatkan untuk dating, entah hanya untuk kumpul bareng ataupun jalan-jalan bareng.

Aku selalu melewati jalur pantura, melewati Indramayu tempat kakek dan nenekku dari Ayah, lalu lanjut ke Brebes-Tegal-Pekalongan, hingga Semarang. Kemudian ke Salatiga lalu Solo. Selanjutnya melewati Sragen dan lanjut ke kota Ngawi. Lalu terus saja melewati Nganjuk-Blitar-hingga Malang. Jangan harap tempat kakekku itu di kota Malang, melainkan di Malang coret alias hampir berdekatan dengan Blitar. Aku pun tak pernah berharap menemukan desa kakekku itu di Google Earth, karena tempat kakekku itu berada di desa Jambuwer, di kaki Gunung Kawi. Jadi, jangan heran kalau ke kota Malang saja, aku harus menempuh waktu dua jam sendiri. Belum jika macet atau pasaran. Wah, jangan harap dua jam bisa mencapai kota Malang.

Aku mempunyai 13 sepupu. Wajar saja, Ibuku 8 bersaudara. Kami selalu mempunyai acara tahunan sendiri. Waktu aku kecil dulu, aku ingat sepupuku sudah SMA dan SMP, mereka selalu membuatkan acara untuk kami. Drama merupakan favorit kami. Kadang drama romantis, kadang drama horror, yang akhirnya selalu tertebak, yaitu komedi karena ulah sepupu-sepupuku yang masih kecil-kecil. Kadang kami juga mengitari daerah sekitar desa kakekku dengan menggunakan mobil, mencari-cari kuburan dan tentu saja, bagian sepupuku yang lebih tua menakut-nakuti sepupuku yang lebih kecil.

Walaupun begitu, kami selalu menantikan Lebaran itu setiap tahun. Walaupun hanya sebegitunya, tapi kami begitu ingin tahu keadaan satu sama lain. Kadang aku ingin tahu bagaimana keadaan sepupuku yang ada di Surabaya ataupun bahkan yang satu kota tempatku kuliah, karena saking jarangnya kami bertemu.

Dulu, ketika kakekku masih ada, kami selalu pergi makan ke Blitar ataupun Malang, mampir sebentar ke alun-alun untuk beli bakso atau hanya sekedar es, kemudian mampir ke sungai hanya untuk main-main. Lima tahun yang lalu, kakekku tiada. Namun ternyata tradisi itu kami lanjutkan. Memenuhi rumah kakekku, kemudian pergi bermain-main. Kami selalu tak lupa menikmati hasil kebun kakekku yang mulai tidak terurus, entah mengambil kelapa ataupun jambu ataupun mangga.

Selebihnya, rumah kakekku itu kosong melompong, bahkan kalau kau meninggalkan kotak pada tahun ini, tahun depan pun masih akan dapat kau temukan. Tidak ada orang yang menungguinya. Kedua kakak ibuku yang berada di dekat rumah kakekku pun hanya sesekali melongok atau hanya sekedar menyalakan dan mematikan lampu.

Biarlah begitu, agar kami selalu merindukan rumah itu setiap Lebaran.