Malam-malam hbs belajar, jadi keingetan, sbnrnya apa aj sih yg udh gw pelajarin dan apa yg masih perlu gw pelajarin.
Jaman SD dulu, gw cm pengen ranking 1 n punya banyak temen. Hidup gw cm berkisar belajar, main, dan berantem lucu sm temen skelas.
Jaman smp, udh lewatlah study oriented nya. Gw pgn aktif organisasi n eksis di sekolah. Jaman ini gw jg amazed sih, les bhs inggris, les piano, les pelajaran, aktif ekskul, osis, yaampuuun deh, super(sok)sibuk.
Jaman sma, wahh berhub sma lain dr yg lain, gw belajar gimana menerapkan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani. Belajar gmn jadi bupati di falsafah esem bupati, semu mantri dan dupak kuli. Belajar mendorong diri gw di kondisi yg gw gak suka sama sekali. Menghargai org lain dan hidup dgn org yg gak bs lo atur. Belajar bagaimana bs berguna untuk negara ini. Wahh, berbagai softskill yg insyaAllah sangat berguna sampai nanti.
Jaman kuliah, gw belajar bagaimana bermimpi tinggi. Bagaimana kita bisa terdepan, bukan hanya di Indonesia, tp di dunia. Gw banyak denger cerita alumni yg sukses gak cm di indonesia tp jg negara lain. Intinya, elo bisa menjadi apapun yg elo impikan. Asal lo pny mimpinya, dan langkah nyata menuju mimpi itu.
Well, berbagai pelajaran itu mengajarkan bagaimana gw harus melihat ke atas, agar kita tdk pernah berpuas diri untuk mencapai sstu, bagaimana sbnrnya kita bs memaksa diri kita hingga ke level setinggi-tingginya, tentu sj dgn cara yg benar. Dgn kita menjadi seseorang yg tinggi, tentu tujuannya adl, kita akan smakin bs berguna bagi sekitar. Tapi kita jg tetap harus melihat ke bawah, agar kita tidak lupa bersyukur dan tentunya berbagi, karena kita smua jg awalnya bukanlah apa2 dan bukan siapa2.
Pengen belajar apa lagi yah? Yaahh klo technical, tentu msi banyak yg hrs gw pelajari, secara I am an engineer who soon will turn into an economist. Selebihnya, pelajaran ttg kehidupan (yasiek) bs kita pelajari dimana saja dan kapan saja. Keep ur senses and u will see beyond what u actually see.
Udh ahh, ngelantur berat sesi curhat malam2 ini. Gnight!
Showing posts with label kuliah. Show all posts
Showing posts with label kuliah. Show all posts
Sunday, September 1, 2013
Tuesday, January 11, 2011
Cita-cita
Kalau ditanya cita-cita, dari kecil gue selalu punya cita-cita. Mulai dari pengen jadi polisi, pengen jadi arsitek, penulis sampai pengen jadi dosen. Dan sampai sekarang, gua bahkan bingung mau jadi apa.
Pengen jadi polisi, gara-gara SD gue SD polisi, deket sama kapolres bogor, bikin gue sering liat polwan-polwan. Keren aja, pake seragam, bantuin orang. Tapi bukan itu ya alesan gue masuk tarnus :D Setelah lulus SD pun, keinginan jadi polisi kandas.
Begitu SMP, mulai deh mikirin cita-cita yang agak realistis. Jadi apa ya? Kayaknya jadi arsitek keren deh, ngerancang bangunan gitu. Sampai masuk SMA pun, cita-cita ini yang gue tulis di setiap psikotest. Tapi begitu tahu jadi arsitek harus teliti dan mengerikan (katanya), gue pun memutuskan meninggalkan cita-cita ini. Oiya, pas SMP ini, gue juga sempet les piano. Kayaknya jadi pianis keren juga deh. Tapi sekolah musik di Indonesia di mana ya? Cita-cita ini pun kandas pula.
Masuk kuliah, gue nggak tahu mau jadi apa. Yang gue pikirin, masuk universitas bagus, ntar lanjut kuliah lagi, baru cari kerja. Milih kuliah juga nggak gampang. Berhubung nggak punya cita-cita, bikin makin susah cari jurusan. Untung di SMA ada saat sharing-sharing sama alumni. Berbekal hasil tanya sana sini, gue pun memilih teknik industri. Pertimbangannya simpel aja, gue pengen masuk teknik yang banyak cwenya dan nggak banyak hapalannya. Hahaha. Setelah keterima di UGM dan ITB, gue pun memutuskan masuk ITB.
Punya hobi baca dari kecil, bikin gue pengen jadi komikus atau jadi penulis. Berhubung gue doyan cerita, menarik juga jadi penulis. Tapi, gimana sih caranya jadi penulis. Jaman dulu, belum banyak novel-novel kayak jaman sekarang. Sekitar gue, masih lebih banyak novel terjemahan dibanding novel karya anak bangsa. Makanya, begitu liat Raditya Dika, Sitta Karina atau Adhitiya Mulya, gue jadi seneng banget. Walau bakat menulis gue kayaknya harus terpendam, gue seneng lihat banyak orang suka menulis.
Melihat ortu menjadi dosen, kayaknya enak, nggak punya bos, waktu kerja fleksibel. Hal ini membuat gue punya cita-cita jadi dosen. Namun, begitu gue mengerjakan skripsi, membayangkan gue harus mengerjakan dua skripsi yang lebih expert lagi, dan seumur hidup gue, gue harus mengembangkan ilmu pengetahuan, cita-cita jadi dosen pun kandas.
Setelah lulus, cita-cita masih menjadi tanda tanya besar dalam hidup gue. Gue pikir, setelah lulus, hidup jadi lebih simpel. Tapi saya salah ternyata. Gue masih harus memilih dari milyaran pilihan dalam hidup. Sampai sekarang, kalau ditanya apa cita-cita gue, gue selalu menjawab, ingin menjadi wanita karir, have my own income and independent from anyone. Ya, itu prinsip hidup gue. Gue gak pengen nyusahin siapa-siapa. Mungkin ini juga akibat jadi anak tunggal. Gue gak pengen nyusahin siapa-siapa, dan gue pengen bebas dari siapapun.
Well, masih panjang perjalanan ke depan, semoga gue pun dan semua yang baca tulisan ini, menemukan cita-cita yang sesuai dengan diri kita, dan tentunya berguna buat orang lain
Pengen jadi polisi, gara-gara SD gue SD polisi, deket sama kapolres bogor, bikin gue sering liat polwan-polwan. Keren aja, pake seragam, bantuin orang. Tapi bukan itu ya alesan gue masuk tarnus :D Setelah lulus SD pun, keinginan jadi polisi kandas.
Begitu SMP, mulai deh mikirin cita-cita yang agak realistis. Jadi apa ya? Kayaknya jadi arsitek keren deh, ngerancang bangunan gitu. Sampai masuk SMA pun, cita-cita ini yang gue tulis di setiap psikotest. Tapi begitu tahu jadi arsitek harus teliti dan mengerikan (katanya), gue pun memutuskan meninggalkan cita-cita ini. Oiya, pas SMP ini, gue juga sempet les piano. Kayaknya jadi pianis keren juga deh. Tapi sekolah musik di Indonesia di mana ya? Cita-cita ini pun kandas pula.
Masuk kuliah, gue nggak tahu mau jadi apa. Yang gue pikirin, masuk universitas bagus, ntar lanjut kuliah lagi, baru cari kerja. Milih kuliah juga nggak gampang. Berhubung nggak punya cita-cita, bikin makin susah cari jurusan. Untung di SMA ada saat sharing-sharing sama alumni. Berbekal hasil tanya sana sini, gue pun memilih teknik industri. Pertimbangannya simpel aja, gue pengen masuk teknik yang banyak cwenya dan nggak banyak hapalannya. Hahaha. Setelah keterima di UGM dan ITB, gue pun memutuskan masuk ITB.
Punya hobi baca dari kecil, bikin gue pengen jadi komikus atau jadi penulis. Berhubung gue doyan cerita, menarik juga jadi penulis. Tapi, gimana sih caranya jadi penulis. Jaman dulu, belum banyak novel-novel kayak jaman sekarang. Sekitar gue, masih lebih banyak novel terjemahan dibanding novel karya anak bangsa. Makanya, begitu liat Raditya Dika, Sitta Karina atau Adhitiya Mulya, gue jadi seneng banget. Walau bakat menulis gue kayaknya harus terpendam, gue seneng lihat banyak orang suka menulis.
Melihat ortu menjadi dosen, kayaknya enak, nggak punya bos, waktu kerja fleksibel. Hal ini membuat gue punya cita-cita jadi dosen. Namun, begitu gue mengerjakan skripsi, membayangkan gue harus mengerjakan dua skripsi yang lebih expert lagi, dan seumur hidup gue, gue harus mengembangkan ilmu pengetahuan, cita-cita jadi dosen pun kandas.
Setelah lulus, cita-cita masih menjadi tanda tanya besar dalam hidup gue. Gue pikir, setelah lulus, hidup jadi lebih simpel. Tapi saya salah ternyata. Gue masih harus memilih dari milyaran pilihan dalam hidup. Sampai sekarang, kalau ditanya apa cita-cita gue, gue selalu menjawab, ingin menjadi wanita karir, have my own income and independent from anyone. Ya, itu prinsip hidup gue. Gue gak pengen nyusahin siapa-siapa. Mungkin ini juga akibat jadi anak tunggal. Gue gak pengen nyusahin siapa-siapa, dan gue pengen bebas dari siapapun.
Well, masih panjang perjalanan ke depan, semoga gue pun dan semua yang baca tulisan ini, menemukan cita-cita yang sesuai dengan diri kita, dan tentunya berguna buat orang lain
Recent Activities
Enam bulan terakhir, kalau ditanya apa kerjaan gue, gue bakalan jawab, gue banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang sebagai bentuk balas dendam gue setelah skripsi, gue juga banyak menghabiskan waktu di rumah setelah tujuh tahun merantau dan gue banyak lamar kerja.
Sejak awal, gue gak pernah punya niatan habis lulus langsung kerja. Tapi begitu kelar skripsi, gue memutuskan mengambil langkah itu. Walau banyak banget orang-orang di sekitar gue yang menyayangkan hal itu karena nilai gue.
Walaupun bisa lulus cepet, sampai sekarang gue belum kerja. Apa alesannya? Belum nemu tempat yang cocok. Gue jadi inget kata temen gue yang udah kerja, kalo jodoh sama kerjaannya, lo bakal ngerasain dari pertama lo tes di tempat itu. Gue pun sadar, cari kerjaan gak segampang cari sekolah. Dari gue SD ampe kuliah, semua tempat gue belajar selalu gue dapet dengan mudah. Asal gue belajar tekun, gue bakal dapet yang gue mau.
Bener aja, dari belasan tempat yang gue apply, cuma nyangkut satu ampe sekarang. Dan dari semuanya, setiap ada yang mengganjal di pikiran gue, gue pasti nggak lolos. Tapi, gue nggak kerja di satu tempat itu. Pertimbangannya? Banyak, dan gue nggak memilih di sana.
Berhubungan sama cita-cita gue, sebenernya gue juga bingung mau kerja di mana. Udah bingung mau dimana, belum tentu tuh perusahaan mau ama gue. Hahaha,miris yah.
Ortu udah mulai pusing, dan memaksa gue untuk S2. Walau dalam lubuk hati gue, gue gak pengen S2. Gue pengen kerja dulu, cari pengalaman dan menikmati arti hidup. S2 juga bukan pilihan jelek pastinya, cuma belum sekarang aja kayaknya. Walau begitu, ortu mulai annoying juga sih, nasib jadi anak tunggal. Hahaha.
Banyak yang heran kenapa gue belum kerja. Menurut gue jawabannya jelas, belum jodoh. Dan menurut gue, ini saatnya gue belajar banyak hal. Belajar gagal juga merupakan pelajaran besar buat gue, mengingat gue nggak pernah gagal dalam tes sejak gue SD. Saatnya buat gue introspeksi dan tabah dalam cobaan. Lagian, dibanding cobaan gue ini, masih banyak cobaan yang jauh lebih berat dibanding gue. Dan gue tetep harus banyak bersyukur, walau gue belum kerja, gue masih bisa hidup enak dengan keluarga yang lengkap di rumah. Oiya, mungkin ini juga saat gue deket sama ortu, mengingat sebelum SMA, gue nggak pernah sedeket ini sama ortu.
Mudah-mudahan, gue bisa nemuin tempat yang pas dan belajar secepatnya, dan gue percaya.
Sejak awal, gue gak pernah punya niatan habis lulus langsung kerja. Tapi begitu kelar skripsi, gue memutuskan mengambil langkah itu. Walau banyak banget orang-orang di sekitar gue yang menyayangkan hal itu karena nilai gue.
Walaupun bisa lulus cepet, sampai sekarang gue belum kerja. Apa alesannya? Belum nemu tempat yang cocok. Gue jadi inget kata temen gue yang udah kerja, kalo jodoh sama kerjaannya, lo bakal ngerasain dari pertama lo tes di tempat itu. Gue pun sadar, cari kerjaan gak segampang cari sekolah. Dari gue SD ampe kuliah, semua tempat gue belajar selalu gue dapet dengan mudah. Asal gue belajar tekun, gue bakal dapet yang gue mau.
Bener aja, dari belasan tempat yang gue apply, cuma nyangkut satu ampe sekarang. Dan dari semuanya, setiap ada yang mengganjal di pikiran gue, gue pasti nggak lolos. Tapi, gue nggak kerja di satu tempat itu. Pertimbangannya? Banyak, dan gue nggak memilih di sana.
Berhubungan sama cita-cita gue, sebenernya gue juga bingung mau kerja di mana. Udah bingung mau dimana, belum tentu tuh perusahaan mau ama gue. Hahaha,miris yah.
Ortu udah mulai pusing, dan memaksa gue untuk S2. Walau dalam lubuk hati gue, gue gak pengen S2. Gue pengen kerja dulu, cari pengalaman dan menikmati arti hidup. S2 juga bukan pilihan jelek pastinya, cuma belum sekarang aja kayaknya. Walau begitu, ortu mulai annoying juga sih, nasib jadi anak tunggal. Hahaha.
Banyak yang heran kenapa gue belum kerja. Menurut gue jawabannya jelas, belum jodoh. Dan menurut gue, ini saatnya gue belajar banyak hal. Belajar gagal juga merupakan pelajaran besar buat gue, mengingat gue nggak pernah gagal dalam tes sejak gue SD. Saatnya buat gue introspeksi dan tabah dalam cobaan. Lagian, dibanding cobaan gue ini, masih banyak cobaan yang jauh lebih berat dibanding gue. Dan gue tetep harus banyak bersyukur, walau gue belum kerja, gue masih bisa hidup enak dengan keluarga yang lengkap di rumah. Oiya, mungkin ini juga saat gue deket sama ortu, mengingat sebelum SMA, gue nggak pernah sedeket ini sama ortu.
Mudah-mudahan, gue bisa nemuin tempat yang pas dan belajar secepatnya, dan gue percaya.
Skripsi
Hahaha. Kayaknya udah hampir setau lebih gue ninggalin blog ini. My last year in college was my hardest part of my life. Biarpun udah gue lewatin, masa itu bener-bener sulit buat gue. Akhirnya gue bisa nyelesein skripsi dan tugas-tugas gue, gue akuin, tahun terakhir merupakan tahun paling ansos (anti sosial). Hahaha. Lebai ya kedengerannya.
Skripsi, mungkin kata ini merupakan kata tabu buat banyak orang, termasuk gue. Sebelum gue ngerjain skripsi, gue tentunya udah denger banyak cerita tentang pembuatan skripsi. Ada yang gak beres-beres, ada yang ampe gila dan ada pula yang secepat kilat. Berbekal pengalaman, gue setengah percaya skripsi gue bakal lancar jaya.
Semester 7 yang maha dahsyat di prodi teknik industri ITB,gue pun memulai memikirkan syarat sarjana maha penting ini. Untungnya, Allah bener-bener bantu gue. Gimana nggak, mulai dari topik dan bahan-bahan, gue dikasi sama calon dosen pembimbing gue. Ceritanya pun simpel, suatu hari gue memutuskan sore yang kosong di lab tempat nongkrong gue di tahun terakhir ini. Tiba-tiba calon dosen pembimbing berinisial AM ini memanggil gue. Dan terjadi gitu aja, beliau kasih tiga paper tentang calon skripsi dan gue diminta mempelajari paper tersebut dan buat calon bab 1 gue. Selain itu, gue pun dikasi gambaran umum calon skripsi gue nantinya. Kebayang nggak campur tangan Tuhan di sana? Coba kalau gue memutuskan untuk tidur siang di kosan, mungkin ceritanya bakal beda. Karena di saat itu, gue bukanlah orang yang rame-rame menghubungi dosen gue itu dan minta topik, dsb. Alhamdulillah, Tuhan berkata lain.
Dimulailah skripsi maha dahsyat itu. Topik gue termasuk topik super abstrak. Gue harus memikirkan suatu metode yang belum pernah ada, dan bahkan mungkin belum pernah dipikirkan perusahaan tempat gue buat skripsi. Tapi emang besar banget peranannya. Untung aja tuh perusahaan lagi-lagi di sebelah lab gue berada. Jadinya gue nggak pusing bolakbalik cuma buat ngambil data. Eh iya, mending ada datanya, skripsi gue dataless alias gak pke data. Ajib kan ya skripsi gue. Haha
Di tengah-tengah pengerjaan, gue jadi bener-bener tau perasaan orang yang ampe gila gara-gara skripsi. Gue aja heran gue nggak gila. Hahaha. Kita harus ngerjain suatu masalah sendiri, belum lagi perusahaan gak banyak buku, harus berkutat cari paper yang kita aja gak tahu mau paper kayak apa, belum lagi ngeliat temen yang udah jauh di depan soal skripsi nya.
Kebiasaan gue yang berubah? Rambut gue jadi super rontok, gue ampe takut gue penyakitan. Sisiran aja, segumpal rambut bisa gue ambil dan lantai pun harus rajin gue sapu kalo nggak mau ketutup rambut. Tidur pun seadanya, gampang marah-marah, dan nggak mau ketemu orang-orang. Kerjaan gue pun cuma kampus kosan. Oiya, gue juga made a pact before my skripsi had done. Gue nggak baca novel, nggak nonton drama korea, nggak nonton di bioskop, nggak karaokean. Pokoknya say no ke hal-hal yang butuh waktu banyak. Untung gue lagi gila korea,jadi gue nontonin variety show yang paling setengah jam aja.
Jadwal ngerjain skripsi gue awalnya serabutan. Siang habis kuliah biasanya gue abisin di kampus buat donlot paper mumpung banyak yang bisa diakses. Sore istirahat. Malem lanjut ampe pagi. Gak jarang juga gue ampe nginep di kampus demi bimbingan rutin tiap Jumat. Menjelang sidang, gue pun baru mendapatkan jadwal efektif, yaitu habis Subuh ngerjain ampe siang. Kalo perlu paper (dan video Korea) sore ke kampus skalian konsultasi. Magrib ampe jam 7an istirahat, makan, n seneng-seneng. Baru malem lanjut ampe jam 10an. Gak perlu deh namanya begadang ampe pagi.
Itu mungkin cerita tentang buat skripsi gue yang agak lebai. Pasti ada juga orang yang kerjaannya hepi-hepi doang, tapi skripsinya kelar-kelar aja. Buat yang udah pernah ngerasain skripsi, gue yakin banyak pembelajaran yang didapet. Selain akademik tentunya, kita juga belajar memahami diri sendiri dan tentunya tambah dewasa dalam banyak hal. Buat yang lagi ngerjain skripsi, ayo semangat. Semua pasti bisa nyelesein skripsinya kok, just believe in yourself. Buat yang akan skripsi, jangan takut berlebihan. Nervous wajar banget, cuma saran gue sih, rajin-rajin aja bimbingan, karena dosen pembimbing itu yang akan jadi teman kita sampai sidang nanti. Jadi, jangan sampe bikin ulah, dan turutin aja mau beliau.
Happy skripsi!
Skripsi, mungkin kata ini merupakan kata tabu buat banyak orang, termasuk gue. Sebelum gue ngerjain skripsi, gue tentunya udah denger banyak cerita tentang pembuatan skripsi. Ada yang gak beres-beres, ada yang ampe gila dan ada pula yang secepat kilat. Berbekal pengalaman, gue setengah percaya skripsi gue bakal lancar jaya.
Semester 7 yang maha dahsyat di prodi teknik industri ITB,gue pun memulai memikirkan syarat sarjana maha penting ini. Untungnya, Allah bener-bener bantu gue. Gimana nggak, mulai dari topik dan bahan-bahan, gue dikasi sama calon dosen pembimbing gue. Ceritanya pun simpel, suatu hari gue memutuskan sore yang kosong di lab tempat nongkrong gue di tahun terakhir ini. Tiba-tiba calon dosen pembimbing berinisial AM ini memanggil gue. Dan terjadi gitu aja, beliau kasih tiga paper tentang calon skripsi dan gue diminta mempelajari paper tersebut dan buat calon bab 1 gue. Selain itu, gue pun dikasi gambaran umum calon skripsi gue nantinya. Kebayang nggak campur tangan Tuhan di sana? Coba kalau gue memutuskan untuk tidur siang di kosan, mungkin ceritanya bakal beda. Karena di saat itu, gue bukanlah orang yang rame-rame menghubungi dosen gue itu dan minta topik, dsb. Alhamdulillah, Tuhan berkata lain.
Dimulailah skripsi maha dahsyat itu. Topik gue termasuk topik super abstrak. Gue harus memikirkan suatu metode yang belum pernah ada, dan bahkan mungkin belum pernah dipikirkan perusahaan tempat gue buat skripsi. Tapi emang besar banget peranannya. Untung aja tuh perusahaan lagi-lagi di sebelah lab gue berada. Jadinya gue nggak pusing bolakbalik cuma buat ngambil data. Eh iya, mending ada datanya, skripsi gue dataless alias gak pke data. Ajib kan ya skripsi gue. Haha
Di tengah-tengah pengerjaan, gue jadi bener-bener tau perasaan orang yang ampe gila gara-gara skripsi. Gue aja heran gue nggak gila. Hahaha. Kita harus ngerjain suatu masalah sendiri, belum lagi perusahaan gak banyak buku, harus berkutat cari paper yang kita aja gak tahu mau paper kayak apa, belum lagi ngeliat temen yang udah jauh di depan soal skripsi nya.
Kebiasaan gue yang berubah? Rambut gue jadi super rontok, gue ampe takut gue penyakitan. Sisiran aja, segumpal rambut bisa gue ambil dan lantai pun harus rajin gue sapu kalo nggak mau ketutup rambut. Tidur pun seadanya, gampang marah-marah, dan nggak mau ketemu orang-orang. Kerjaan gue pun cuma kampus kosan. Oiya, gue juga made a pact before my skripsi had done. Gue nggak baca novel, nggak nonton drama korea, nggak nonton di bioskop, nggak karaokean. Pokoknya say no ke hal-hal yang butuh waktu banyak. Untung gue lagi gila korea,jadi gue nontonin variety show yang paling setengah jam aja.
Jadwal ngerjain skripsi gue awalnya serabutan. Siang habis kuliah biasanya gue abisin di kampus buat donlot paper mumpung banyak yang bisa diakses. Sore istirahat. Malem lanjut ampe pagi. Gak jarang juga gue ampe nginep di kampus demi bimbingan rutin tiap Jumat. Menjelang sidang, gue pun baru mendapatkan jadwal efektif, yaitu habis Subuh ngerjain ampe siang. Kalo perlu paper (dan video Korea) sore ke kampus skalian konsultasi. Magrib ampe jam 7an istirahat, makan, n seneng-seneng. Baru malem lanjut ampe jam 10an. Gak perlu deh namanya begadang ampe pagi.
Itu mungkin cerita tentang buat skripsi gue yang agak lebai. Pasti ada juga orang yang kerjaannya hepi-hepi doang, tapi skripsinya kelar-kelar aja. Buat yang udah pernah ngerasain skripsi, gue yakin banyak pembelajaran yang didapet. Selain akademik tentunya, kita juga belajar memahami diri sendiri dan tentunya tambah dewasa dalam banyak hal. Buat yang lagi ngerjain skripsi, ayo semangat. Semua pasti bisa nyelesein skripsinya kok, just believe in yourself. Buat yang akan skripsi, jangan takut berlebihan. Nervous wajar banget, cuma saran gue sih, rajin-rajin aja bimbingan, karena dosen pembimbing itu yang akan jadi teman kita sampai sidang nanti. Jadi, jangan sampe bikin ulah, dan turutin aja mau beliau.
Happy skripsi!
Friday, June 12, 2009
Lanjutan KP?
Selanjutnya, masih ada 3 hari ke depan di MDP ini
Berhubung udah malem, kapan2 di lanjut lagi yahhh
C u soon!
Berhubung udah malem, kapan2 di lanjut lagi yahhh
C u soon!
MDP First Day
Senin, 8 Juni 2009
Pagi ini dikejutkan dengan olahraga pagi yang diadakan jam 6. Kami semua senam dan lari keliling pekarangan plant. Lumayan juga, mengingat satu tahun penuh aku absen dari sabuga. Ngos-ngosan tapi sehat juga. Aku juga kaget karena aku juga diajari lagu lari seperti dulu,
Ayo lari Tiap pagi
Badan sehat Kuat kaki
Tentu saja dengan lirik yang diganti-ganti sesuai dengan keinginan pelatih.
Selanjutnya kami semua dipanggang di pekarangan plant untuk opening ceremony pada jam 10-11. Lalu kami makan siang di ruangan meeting dan dilanjutkan dengan acara lainnya, yaitu plant tour dan materi dari pihak manajemen.
Pada hari itu, kami berkenalan dengan menyebutkan nama, asal jurusan masing-masing dan tahun kelulusan pada awal kegiatan. Yah, lumayan juga jadi tahu beberapa nama peserta lainnya. Agak aneh juga sih berada di tengah-tengah mbak-mbak dan mas-mas yang akan bekerja dan semuanya sudah lulus. Untung saja, mayoritas diantara mereka fresh graduate, sehingga perbedaan umur kami hanya satu sampai dua tahun.
Hari itu ditutup dengan makan malam bersama di kantin, dan kemudian persiapan untuk hari berikutnya.
Pagi ini dikejutkan dengan olahraga pagi yang diadakan jam 6. Kami semua senam dan lari keliling pekarangan plant. Lumayan juga, mengingat satu tahun penuh aku absen dari sabuga. Ngos-ngosan tapi sehat juga. Aku juga kaget karena aku juga diajari lagu lari seperti dulu,
Ayo lari Tiap pagi
Badan sehat Kuat kaki
Tentu saja dengan lirik yang diganti-ganti sesuai dengan keinginan pelatih.
Selanjutnya kami semua dipanggang di pekarangan plant untuk opening ceremony pada jam 10-11. Lalu kami makan siang di ruangan meeting dan dilanjutkan dengan acara lainnya, yaitu plant tour dan materi dari pihak manajemen.
Pada hari itu, kami berkenalan dengan menyebutkan nama, asal jurusan masing-masing dan tahun kelulusan pada awal kegiatan. Yah, lumayan juga jadi tahu beberapa nama peserta lainnya. Agak aneh juga sih berada di tengah-tengah mbak-mbak dan mas-mas yang akan bekerja dan semuanya sudah lulus. Untung saja, mayoritas diantara mereka fresh graduate, sehingga perbedaan umur kami hanya satu sampai dua tahun.
Hari itu ditutup dengan makan malam bersama di kantin, dan kemudian persiapan untuk hari berikutnya.
MDP First Day
Minggu, 7 Juni 2009
Hari ini aku akan memulai training pra kerja praktek yang akan kulakukan di PT Polychem Indonesia Tbk. Awalnya aku dan temanku hanya apply untuk KP. Namun karena berbarengan dengan training untuk calon karyawan, maka aku dan Riris mengikuti training yang bernama MDP (Management Development Programme) tersebut.
Dimulai dengan perjalanan menuju Karawang, tempat dilaksanakan training tersebut. Aku diantar oleh orangtuaku dan supir. Sampai sana, aku langsung diarahkan untuk menuju mess tempat aku akan menginap. Sampai sana, ternyata rombongan yang seluruhnya berasal dari Malang sudah sampai. Tidak lama kemudian, Riris pun sampai dan kami pun berkenalan satu sama lain sampai berkumpul di kantin untuk melakukan gladi resik upacara pembukaan.
Ada 5 orang perempuan selain kami dan 18 orang laki-laki. Untuk perempuan, ada Mbak Fitri, Mbak Eli, Mbak Dian, Mbak Hilda dan Mbak Aida. Seluruh peserta yang jumlahnya 25 ada yang berasal dari teknik kimia, teknik sipil, teknik mesin, teknik elektro, psikologi, hukum dan akuntansi. Kebanyakan peserta berasal dari ITN Malang, dan sisanya ada yang berasal dari Politeknik Malang, ITS dan UMM. Seluruhnya akan mengikuti seleksi yang diadakan di rangkaian MDP yang dilaksanakan empat hari mulai tanggal 8-11 Juni 2009.
Di hari ini, kemudian kami berkumpul untuk membuat ikrar yang akan kami patuhi selama 4 hari ke depan dan membuat yel-yel MDP angkatan 2009. Selanjutnya kami melakukan PBB untuk gladi kotor closing ceremony esok hari dan briefing rangkaian acara. Yang aku kagetkan, aku diajari menyanyi lagu-lagu yang pernah kunyanyikan di SMA TN dulu. Kangen deh.
Selamat datang pahlawan muda
Lama nian kami rindu padamu
Bertahun-tahun berderai mata
Kini kita dapat berjumpa pula
Selanjutnya kami kembali ke mess untuk istirahat dan mandi dan makan malam yang dilakukan di kantin. Malam hari, aku habiskan dengan berkenalan satu sama lain terutama yang perempuan di mess.
Hari ini aku akan memulai training pra kerja praktek yang akan kulakukan di PT Polychem Indonesia Tbk. Awalnya aku dan temanku hanya apply untuk KP. Namun karena berbarengan dengan training untuk calon karyawan, maka aku dan Riris mengikuti training yang bernama MDP (Management Development Programme) tersebut.
Dimulai dengan perjalanan menuju Karawang, tempat dilaksanakan training tersebut. Aku diantar oleh orangtuaku dan supir. Sampai sana, aku langsung diarahkan untuk menuju mess tempat aku akan menginap. Sampai sana, ternyata rombongan yang seluruhnya berasal dari Malang sudah sampai. Tidak lama kemudian, Riris pun sampai dan kami pun berkenalan satu sama lain sampai berkumpul di kantin untuk melakukan gladi resik upacara pembukaan.
Ada 5 orang perempuan selain kami dan 18 orang laki-laki. Untuk perempuan, ada Mbak Fitri, Mbak Eli, Mbak Dian, Mbak Hilda dan Mbak Aida. Seluruh peserta yang jumlahnya 25 ada yang berasal dari teknik kimia, teknik sipil, teknik mesin, teknik elektro, psikologi, hukum dan akuntansi. Kebanyakan peserta berasal dari ITN Malang, dan sisanya ada yang berasal dari Politeknik Malang, ITS dan UMM. Seluruhnya akan mengikuti seleksi yang diadakan di rangkaian MDP yang dilaksanakan empat hari mulai tanggal 8-11 Juni 2009.
Di hari ini, kemudian kami berkumpul untuk membuat ikrar yang akan kami patuhi selama 4 hari ke depan dan membuat yel-yel MDP angkatan 2009. Selanjutnya kami melakukan PBB untuk gladi kotor closing ceremony esok hari dan briefing rangkaian acara. Yang aku kagetkan, aku diajari menyanyi lagu-lagu yang pernah kunyanyikan di SMA TN dulu. Kangen deh.
Selamat datang pahlawan muda
Lama nian kami rindu padamu
Bertahun-tahun berderai mata
Kini kita dapat berjumpa pula
Selanjutnya kami kembali ke mess untuk istirahat dan mandi dan makan malam yang dilakukan di kantin. Malam hari, aku habiskan dengan berkenalan satu sama lain terutama yang perempuan di mess.
Subscribe to:
Comments (Atom)